Langsung ke konten utama

Distance, Light & Sky

Terang cuaca langit lazuardi, biru jernih dihiasi genera awan altokumulus yang tergantung di atmosfer, nampak seragam seperti bola-bola kapas yang bergandengan.


“Cantik.”


Sepasang manik menikmati pemandangan pagi, bibirnya tersungging berseri-seri. Sepantun mutia, ia cantik tak kalah dari yang ditilik. Lilyanna Batari, nama si gadis pemilik bola mata sani, yang sekarang telah berganti posisi dari berdiri pindah ke kursi, namun tetap di tempat tadi. Balkon rumahnya di lantai dua, tempat ia merenung sambil menatap surya maupun purnama. Si gadis duduk menunduk, terdiam sangat lama. Begitulah, mindanya kini memang sedang tidak baik-baik saja, meski sudah cukup tenang setelah melihat buana.


𝘋𝘳𝘳𝘵 𝘥𝘳𝘳𝘵 𝘥𝘳𝘳𝘵....


Getar telepon mengusik lamunnya, tertampak di layar nama sang pujangga hati yang mengikatnya sejak satu tahun yang lalu. Ia menarik nafas panjang, menerima panggilan dari pemuda yang memenuhi kepalanya selama satu minggu ini.


“Assalamu’alaikum.” tutur Lily. Meski ada banyak yang ingin ia sampaikan, namun bibirnya tertahan. Biar pemuda di seberang sana mengerti, betapa gusar hati gadisnya ini.


“Wa’alaikumsalam, Cantik. Sudah sarapan belum?” si pemuda malah berbicara basa-basi, padahal gadisnya sedang menanti penjelasan mengenai ketiadaan kabarnya selama sepekan.


“Sudah.” Lily tak mencair meski telah mendengar suara yang didambanya. Ia tetap menjawab dingin, semaja hatinya ingin sekali melantunkan syair-syair kerinduan.


“Aku juga sudah makan siang sama teman-teman nih hehe.”  terang si pemuda, yang bahkan tidak ditanya sudah makan atau belum.


Hening. Terjadi kekosongan selama dua puluh tiga detik sebab si gadis tak memberi tanggapan balik. Si pemuda mulai resah, ia mencari-cari celah agar gadisnya berhenti marah.


“Hari ini langitnya cerah, ya? Jadi kangen jalan-jalan berdua sambil pegangan tangan di taman kayak waktu itu.” berhasil, kalimat terakhir yang ia ucapkan cukup untuk menapis hati dingin si gadis.


“Raffael....” Lily memanggil nama pemuda di titian, Raffael Bumi Khalifa lengkapnya. Kekasih hatinya yang sudah 6 bulan tinggal di Sydney untuk melanjutkan studi di jurusan bisnis.


“Yiyi, maaf... kalau kamu mau marah sama aku, marah aja, memang aku pantas dimarahi, kok. Jangan cuek gini dong, serem. Sampai berdebar-debar jantung aku.” akhirnya, yang diinginkan si gadis terpenuhi. Raffael menyadari pengabaiannya.


Lily tersenyum mendengar tutur Raffael. “Hu’um, enggak apa-apa.”


“Apanya yang gak apa-apa, jelas-jelas marah gitu. Pasti sekarang lagi cemberut kayak bebek?”


“Sotoy. Sekarang lagi senyum kok.” Lily berbicara jujur. Senyumnya kembali mengudara setelah permintaan maaf terucap dari mulut si pemuda. Meski menginginkan alasan, yang terpenting Raffael tahu bahwa yang ia lakukan telah melukai perasaannya.


“Kok senyum? Ayo cemberut lagi. Aku takut ada cowok yang terpesona lihat senyum kamu. Bisa berabe kalau ada yang berusaha rebut kamu dari aku, soalnya aku jauh gak bisa ngajakin dia baku hantam, kecuali dia mau baku hantam via online ya boleh, deh.”


Tawa lolos dari mulut Lily. Ia sudah menduga, kekasihnya tidak akan membiarkan ia terus beku. Sedari dulu memang hanya Raffael yang mampu meluluhkan penyihir es cantik, sebutan Lily semasa SMA, ini.


Perasaan kuatir Lily berangsur-angsur lincir. Marahnya reda, hatinya lega, ia tersenyum selesa. Mereka melanjutkan percakapan, saling bersautan menyampaikan kerinduan.


Menjalin hubungan jarak jauh memang tidak mudah, hilangnya keintiman dan kedekatan dalam hubungan karena terhalang jarak. Apalagi jika komunikasi tidak berjalan lancar seperti akhir-akhir ini. Namun, Lily sadar bahwa cinta yang sederhana ini hanya perlu ketulusan. Biar kadang mengeluh, asalkan hati tetap teguh.


Dan, lazuardi pagi ini menjadi saksi, betapa tulusnya Lily terhadap Raffael. Dalam hatinya ia berdo’a semoga Tuhan memberikan kesempatan pada mereka untuk dapat berjalan bergandengan seperti awan-awan di atas sana.


“Baik-baik disana, El. Aku sayang kamu.”

Komentar